Showing posts with label Diary. Show all posts
Showing posts with label Diary. Show all posts

Mengenang Prof. Su Ritohardoyo

Semua sudah diatur oleh Allah...
di mana saya bertemu dengan banyak orang baik.
Orang-orang yang memberikan inspirasi tentang semangat, pantang menyerah, tekun, rela berkorban 

Salah satunya adalah seorang Prof. Rito, yang memiliki nama lengkap Prof. Dr. Su Ritohardoyo, M.A.,
seorang Guru Besar Departemen Geografi Pembangunan, Fakultas Geografi, UGM.

Sumber: ugm.ac.id, 26 Agt 2015

Beliau adalah guru, bapak, kakak, sekaligus teman yang banyak menyemangati saya dalam menyelesaikan studi S2 di Geografi Fisik UGM dan Ilmu Lingkungan ITY.
Beliau tidak pernah memposisikan diri sebagai pembimbing, tetapi lebih kepada teman diskusi.

Ingatan saya terlempar ke tahun 2001, saat saya pertama kali bertemu beliau dalam kuliah Ekologi Geografi di UGM.
Jujur, tak terlalu menarik untuk saya, karena mungkin ilmu ekologi relatif asing untuk saya yang berlatar belakang Teknik Geodesi (akhirnya saya juga cuma dapat nilai B untuk mata kuliah ini 😄)

Kesan itu berubah total, kala saya memohon beliau untuk berkenan menjadi pembimbing tesis saya.
Ilmunya banyak.... tidak hanya terkait spesialisasi beliau di bidang Settlement Geography, Human Ecology, dan Land Use, tetapi juga untuk Metodologi Penelitian. 

Banyaaaak..... yang saya pelajari dari beliau, termasuk semangat menempuh ilmu dan mencapai gelar akademik tertinggi sebagai contoh untuk anak cucu.

Hari ini...
Sabtu 30 Oktober 2021
Fakultas Geografi berduka, UGM berduka, mungkin juga banyak institusi lain berduka.
Prof. Rito meninggal pada jam 12.02 WIB di R.S. Sardjito.

Ada kesedihan menyelinap di hati saya.
Mengenang sosok beliau yang humble
Seorang guru yang selalu minta izin kepada saya untuk merokok, sambil diskusi di rumah beliau.
Dan saya tidak ingat, sejak kapan beliau berhenti merokok.

Almarhum memang melarang saya konsultasi di kampus, tetapi selalu meminta datang ke rumah beliau yang sederhana di Perumahan Banteng Jalan Kaliurang Sleman.
Lebih sering malam hari, saat beliau sudah sedikit terbebas dari pekerjaan lain, sehingga punya waktu panjang untuk ngobrol banyak hal.
Tidak hanya tentang tesis saya, juga tentang kehidupan.

Banyak kenangan yang ingin saya tuliskan di 20 tahun mengenal beliau.
Dan takkan cukup dalam ruang terbatas ini.



Upacara Pemberangkatan Jenazah 31 Oktober 2021 menuju Balairung UGM
untuk penghormatan terakhir, sebelum dimakamkan


Selamat jalan Prof... 😢

Saya bersaksi bahwa almarhum orang baik
Semoga Allah ampuni dosanya, diterima amal ibadahnya, dilapangkan kuburnya.
Dan semoga diterima di surga-Nya.
Aamiin Allohumma Aamiin.



Yk - Oct.30.2021
Selepas Ashar yang disaput mendung
(updated Oct.31.2021)


Selalu Ada Pelajaran di Setiap Tugas Lapangan

Sekitar dekade 90-an, saya pernah bekerja sebagai surveyor freelance.
Sembarang proyek diambil ... 
dari planimetris hingga topografis
dari ratusan meter persegi, hingga ratusan hektar 😁
Pernah single fighter, pernah sebagai tenaga kontrak, 
pernah pula sebagai pegawai tetap as Geodetic Engineer di sebuah mapping company di Jakarta.

Sampai akhirnya saya menetapkan diri untuk menjadi seorang PNS!
Menjadi tenaga pendidik!

PKL D1 2021

Tahun 1997 saya memulai karir sebagai pegawai negeri.
Tidak terasa sudah melewati masa 23 tahun lebih.

Di awal waktu sering saya merindukan kembali suasana proyek pengukuran.
Why?
Karena di setiap proyek, saya selalu menemukan hal baru.
Misal: lingkungan baru, orang-orang baru, budaya baru dan sebagainya.

Apakah kemudian saya bosan menjadi PNS?
Ternyata tidak ...
Ternyata saya menemukan "proyek lain" dalam aktivitas saya sebagai pengajar/instruktur.
Proyek yang sering disebut dengan Praktik Kerja Lapangan (PKL).

Kerinduan saya terobati dengan kegiatan PKL--setidaknya untuk Diploma 1--, 
karena berganti taruna (baca: mahasiswa) setiap tahunnya, 
yang lebih saya anggap sebagai team work daripada sebagai murid.

Mengelola taruna yang berjumlah ratusan dan terbagi menjadi puluhan regu,
tentu tidak bisa saya bandingkan dengan proyek "terbesar" yang pernah saya kerjakan dulu di perusahaan swasta.
Beda ... sangat berbeda ... itu kerja profesional! 
Saya pernah membawahi 8 tim pengukuran, mengerjakan proyek topografi seluas 450 Ha, selama 3 bulan!

Pada saat berstatus PNS--hingga saat ini--proyek terbesar saya adalah mengerjakan Pemetaan Tematik Bidang Tanah 23 desa dengan memberdayakan sekitar 20 taruna. 
Ini juga selesai dalam 3-4 bulan.
Jelas di sini ada unsur "pendidikan", saya tidak bisa menuntut mereka dalam koridor "profesional" semata!

Tim PTBT 23 Desa 2018

Untuk PKL, tentu tidak bisa saya anggap sebagai proyek besar atau kecil.
Murni untuk pendidikan dan pengabdian masyarakat!

Satu hal yang saya syukuri ...
Selalu ada pelajaran baru yang saya peroleh saat di lapangan.
Dan itu akan melengkapi diary yang tidak selalu saya tuliskan.
Namun, pasti terekam di ingatan.
That's all



Yk - Jun.25.2021
Catatan di akhir PKL D1 2021
Pagerharjo, Samigaluh, Kulonprogo

Mengenang SDD

Hari ini adalah hari lahir SDD ...
Meskipun SDD--Sapardi Djoko Damono--telah dipanggil menghadap-Nya pada 19 Juli 2020 lalu,
karya-karyanya tak pernah mati.
Setidaknya selalu hidup di benak saya.
Menjadi inspirasi, bagaimana rumit cinta diekspresikan dalam kata-kata yang sederhana.

Dan ini adalah puisi untuk SDD yang tidak sengaja saya tulis pada 19 Maret 2021.
Puisi sederhana, 2 larik saja!
Mengapa tidak sengaja?
Karena kebetulan ada tantangan menulis di twitter dari 2 akun puisi yang kebetulan bertema "ulang tahun".



Untuk hari lahir SDD
(20 Maret 1940 -19 Juli 2020)

"detak adalah syukurmu
saat detik memetik usiamu"

Yk - Mar.19.2021


Sebelumnya saya pernah menulis tentang sosok beliau DI SINI
dengan kalimat pembuka berupa cuplikan puisi beliau yang membekas di hati saya.

Perempuan itu tak bisa dieja kecantikannya;
ia adalah kalimat utuh yang tak cukup sekadar dilisankan.

Saya baca kalimat puitis itu di tweet Sapardi Djoko Damono 10 Mei 2017.
Membuat saya dalam suasana penuh cinta  ... ups

Sebenarnya mengingat sosok beliau bukan seketika.
Melainkan banyak kejadian yang mampu membangkitkan ingatan pada deretan kata yang beliau susun,
dan membuat saya terjebak dalam romantisme.
Hihihi ...

Seperti beberapa hari lalu Jogja diguyur hujan.
Saya mendadak ingat "Hujan di bulan Juni" karya Sapardi Djoko Damono.
Meskipun saya kenal puisi tersebut bukan dalam bahasa tulis,
melainkan dalam sebuah lagu yang merupakan musikalisasi puisi karya beliau.
Mirip dengan lagu yang pernah booming dengan judul "Aku Ingin",
yang diambilkan dari "Aku ingin mencintaimu dengan sederhana"

Saya kutip profil beliau dari Wikipedia.
Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono dilahirkan di Surakarta pada tanggal 20 Maret 1940.
Beliau adalah seorang pujangga Indonesia terkemuka. 
Dikenal melalui berbagai puisi-puisinya yang menggunakan kata-kata sederhana, 
sehingga beberapa di antaranya sangat populer, baik di kalangan sastrawan maupun khalayak umum.

Sederhana kata, tapi sangat dalam maknanya
Mak jleeeb kalo kata anak sekarang.
Hahaha

Masa mudanya dihabiskan di Surakarta (lulus SMP Negeri 2 Surakarta tahun 1955 dan SMA Negeri 2 Surakarta tahun 1958).
Pada masa ini beliau sudah menulis sejumlah karya yang dikirimkan ke majalah-majalah. 
Kesukaan menulis ini berkembang saat ia menempuh kuliah di bidang Bahasa Inggris di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. 
Sejak tahun 1974 mengajar di Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Indonesia, namun kini telah pensiun. 
Beliau pernah menjadi dekan di sana dan juga menjadi guru besar. 
Pada masa tersebut Sapardi Djoko Damono juga menjadi redaktur pada majalah "Horison", "Basis", dan "Kalam".

Sapardi Djoko Damono banyak menerima penghargaan. 
Pada tahun 1986 beliau mendapatkan anugerah SEA Write Award. 
Juga penerima Penghargaan Achmad Bakrie pada tahun 2003. 
Beliau adalah salah seorang pendiri Yayasan Lontar. 
Menikah dengan Wardiningsih dan dikaruniai seorang putra dan seorang putri.

Musikalisasi puisi karya Sapardi Djoko Damono dimulai pada tahun 1987 ketika beberapa mahasiswanya membantu program Pusat Bahasa, membuat musikalisasi puisi karya beberapa penyair Indonesia, dalam upaya mengapresiasikan sastra kepada siswa SLTA.
Saat itulah tercipta musikalisasi "Aku Ingin" oleh Ags. Arya Dipayana dan
"Hujan Bulan Juni" oleh M. Umar Muslim. 
"Aku Ingin" diaransemen ulang oleh Dwiki Dharmawan dan menjadi bagian dari "Soundtrack Cinta dalam Sepotong Roti" (1991), dibawakan oleh Ratna Octaviani.

Beberapa tahun kemudian lahirlah album "Hujan Bulan Juni" (1990) yang seluruhnya merupakan musikalisasi dari sajak-sajak Sapardi Djoko Damono
Duet Reda Gaudiamo dan Ari Malibu merupakan salah satu dari sejumlah penyanyi lain, yang adalah mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia. 
Album "Hujan Dalam Komposisi" menyusul dirilis pada tahun 1996 dari komunitas yang sama.

Sebagai tindak lanjut atas banyaknya permintaan, album "Gadis Kecil" (2006) diprakarsai oleh duet Dua Ibu, yang terdiri dari Reda Gaudiamo dan Tatyana dirilis, dilanjutkan oleh album "Becoming Dew" (2007) dari duet Reda dan Ari Malibu. 

Ananda Sukarlan pada Tahun Baru 2008 juga mengadakan konser kantata "Ars Amatoria" yang berisi interpretasinya atas puisi-puisi Sapardi Djoko Damono serta karya beberapa penyair lain.

Di akhir tulisan ini ...
Saya tampilkan 2 karya Sapardi Djoko Damono
Yang membuat saya jatuh cinta lagi untuk ke sekian kali
Ahaaai ....

Aku Ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada



Hujan di bulan Juni

Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan bulan Juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak
Dari hujan bulan Juni
Dihapuskannya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif
Dari hujan bulan Juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan 
diserap akar pohon bunga itu


Sumber: Ragam Info

Musik adalah ...

 Musik adalah bahasa universal. Benarkah?

Saya tidak bicara setuju dan tidak setuju dengan jargon lama (usang) tersebut.
Karena universalitas sendiri menjadi nisbi, apalagi dikaitkan dengan musik sebagai bahasa.
Ah ... biar ahli musik dan bahasa yang bicara tentang ini ... saya gak mampu.

Google Adsense ke-2

Baru sekitar 3 jam lalu, saya dapat email dari mbah Google tentang kabar bahwa blog ke-2 ini disetujui untuk menayangkan Google Adsense.

Jujur... Ini di luar dugaan saya, coz baru kemarin saya mengajukan adsense dan ternyata Alhamdulillah ga sampe 24 jam udah approved 😊



Apakah Google Adsense itu? Banyak yang sudah tahu. Namun, ga ada salahnya jika saya menulis ulang yang termuat di laman Adsense untuk para newbie (meskipun saya pribadi tetap merasa sebagai nubi, karena saya tidak total terjun di dunia internet). Ini dia...

AdSense adalah cara gratis dan mudah untuk memperoleh uang dengan menampilkan iklan di samping konten online Anda. Dengan AdSense, Anda dapat menampilkan iklan yang menarik dan relevan bagi pengunjung situs, bahkan menyesuaikan tampilan serta nuansa iklan agar sesuai dengan situs Anda.

Google AdSense menyediakan cara bagi penayang untuk mendapatkan uang dari konten daring mereka. AdSense berfungsi dengan mencocokkan iklan dengan situs Anda berdasarkan konten dan pengunjung. Iklan tersebut dibuat dan dibayar oleh pengiklan yang ingin mempromosikan produk mereka. Karena pengiklan tersebut membayar berbagai iklan dengan harga yang berbeda-beda, jumlah yang Anda peroleh tidak akan sama.

Program AdSense berbeda karena menyediakan iklan yang ditayangkan oleh Google Ads pada situs Anda. Setelah itu, Google akan membayar Anda untuk iklan yang ditampilkan di situs Anda berdasarkan klik pengguna pada iklan atau tayangan iklan, bergantung pada jenis iklannya. AdSense memberikan akses cepat dan otomatis ke banyak sumber permintaan pengiklan, yang berarti persaingan untuk mendapatkan ruang iklan, iklan yang lebih relevan, dan iklan untuk semua konten online Anda.

Bisa jadi iklan Adsense belum muncul malem ini. Mungkin besok atau lusa. Atau minggu depan.

Ah sudahlah... yang penting udah siap tayang 😁


Yk - Sept 28, 2020